GAGASAN POPULER MASALAH SOSIAL BUDAYA
GAGASAN
Senin, 07 Desember 2020
Rabu, 19 Juni 2019
Rabu, 20 April 2016
PANTAI PEDE, PEDENG DISE EMPO
PANTAI
PEDE, PEDENG DISE EMPO
Adrianus M.Nggoro, SH,M.Pd
Staf Pengajar STKIP St.Paulus
Ruteng,
Mahasiswa Program S3 Universitas
Negeri Semarang
Web: adrianusnggoro.blogspot.com
Sisi lain secara
akademik, edukatif, pertanyaan pa Edi Danggur
pada sikap Keuskupan Ruteng. Karena itu saya acungkan jempol pada pak
Edi Danggur. Mengapa? karena dengan bertanya, "SEMAKIN TERANG-lah, SEMAKIN
TAJAM-lah, SEMAKIN BERANI-lah, SEMAKIN TERBUKA-lah SIKAP KEUSKUPAN TERHADAP
PANTAI PEDE". Sekali lagi saya ucapkan TERIMAKASIH kepada Pak Edi, karena
dengan bertanya, "PUBLIK TAHU BAGAIMANAKAH SIKAP GEREJA".
Saya kira pasti banyak
umat yang bungkam, hanya sebatas (nggum=ngomong kecil-kecil tak jelas;
nggaut=mengumpat) di warung kopi, di kebun, di sekolah, di kantor, di kios, di
pasar, di halaman kampung (natas). Dengan isi ngobrol tak jelas, pro atau
kontra tolak soal privatisasi atau soal ruang publik terhadap pantai pede.
Pak Edi adalah simbol
AWAM yang telah dibekali oleh ilmu KEBERANIAN dari SANG GEMBALA GEREJA YANG
BAIK. Peradaban ilmu pengetahuan, seni dan budaya (peradaban kebudayaan) lahir
dan terus eksis dalam sejarah kemanusiaan dan sejarah kehidupan, karena
dilahirkan oleh PERTANYAAN dan JAWABAN. TESA, ANTI TESA, SINTESA, menghasilkan
TESA yang baru. GEREJA bertahan EKSIS, KOKOH, TEGAK, BIJAK, dari abad ke abad,
dari abad ke abad, terus dari abad ke abad, karena telah diasah oleh dan dalam
PERTANYAAN, PERMENUNGAN JAWABAN YANG MENDALAM.
Menyangkut Pantai
Pede. Kalau dilihat dari terminologi kata, sebenarnya nama aslinya, "PANTE
PEDE". Makna kata kalimat ini adalah PANTAI TITIPAN, PANTAI PESAN, PANTAI
WEJANGAN, PANTAI NASEHAT. Makna lebih jauh dari ungkapan ini adalah bagaimana
para leluhur yang telah gigih merebut tana Manggarai yang amat luas ukuran NTT,
maka buah dari perjuangan leluhur lewat PANTAI PEDE untuk bersemadi, berenung,
mengenang jasa para leluhur yang dengan gigih dan berani merebut tanah
Manggarai yang amat luas untuk level daerah kabupaten di NTT (sebelum Manggarai
dimekarkan).
Oleh karena itu,
sangat bijaklah kalau PANTAI PEDE ini dijadikan ruang publik untuk merenung,
mengenang jasa para leluhur. Bersantai, bercanda ria, menghirup udara
sepoi-sepoi basah, mandi menikmati indahnya air laut, menatap luasnya lautan,
seluas impian dan harapan membangun Manggarai, membangun generasi daerah,
mebangun generasi bangsa dan sekaligus membangun generasi dunia.
Komentar ini, telah
diposting pada jejaring sosial, Floresa.com (19 April 2016)
Sabtu, 09 April 2016
Langganan:
Komentar (Atom)