Rabu, 20 April 2016

PANTAI PEDE, PEDENG DISE EMPO


PANTAI PEDE, PEDENG DISE EMPO
Adrianus M.Nggoro, SH,M.Pd
Staf Pengajar STKIP St.Paulus Ruteng,
Mahasiswa Program S3 Universitas Negeri Semarang
Web: adrianusnggoro.blogspot.com

Sisi lain secara akademik, edukatif, pertanyaan pa Edi Danggur  pada sikap Keuskupan Ruteng. Karena itu saya acungkan jempol pada pak Edi Danggur. Mengapa? karena dengan bertanya, "SEMAKIN TERANG-lah, SEMAKIN TAJAM-lah, SEMAKIN BERANI-lah, SEMAKIN TERBUKA-lah SIKAP KEUSKUPAN TERHADAP PANTAI PEDE". Sekali lagi saya ucapkan TERIMAKASIH kepada Pak Edi, karena dengan bertanya, "PUBLIK TAHU BAGAIMANAKAH SIKAP GEREJA".
Saya kira pasti banyak umat yang bungkam, hanya sebatas (nggum=ngomong kecil-kecil tak jelas; nggaut=mengumpat) di warung kopi, di kebun, di sekolah, di kantor, di kios, di pasar, di halaman kampung (natas). Dengan isi ngobrol tak jelas, pro atau kontra tolak soal privatisasi atau soal ruang publik terhadap pantai pede.
Pak Edi adalah simbol AWAM yang telah dibekali oleh ilmu KEBERANIAN dari SANG GEMBALA GEREJA YANG BAIK. Peradaban ilmu pengetahuan, seni dan budaya (peradaban kebudayaan) lahir dan terus eksis dalam sejarah kemanusiaan dan sejarah kehidupan, karena dilahirkan oleh PERTANYAAN dan JAWABAN. TESA, ANTI TESA, SINTESA, menghasilkan TESA yang baru. GEREJA bertahan EKSIS, KOKOH, TEGAK, BIJAK, dari abad ke abad, dari abad ke abad, terus dari abad ke abad, karena telah diasah oleh dan dalam PERTANYAAN, PERMENUNGAN JAWABAN YANG MENDALAM.
Menyangkut Pantai Pede. Kalau dilihat dari terminologi kata, sebenarnya nama aslinya, "PANTE PEDE". Makna kata kalimat ini adalah PANTAI TITIPAN, PANTAI PESAN, PANTAI WEJANGAN, PANTAI NASEHAT. Makna lebih jauh dari ungkapan ini adalah bagaimana para leluhur yang telah gigih merebut tana Manggarai yang amat luas ukuran NTT, maka buah dari perjuangan leluhur lewat PANTAI PEDE untuk bersemadi, berenung, mengenang jasa para leluhur yang dengan gigih dan berani merebut tanah Manggarai yang amat luas untuk level daerah kabupaten di NTT (sebelum Manggarai dimekarkan).
Oleh karena itu, sangat bijaklah kalau PANTAI PEDE ini dijadikan ruang publik untuk merenung, mengenang jasa para leluhur. Bersantai, bercanda ria, menghirup udara sepoi-sepoi basah, mandi menikmati indahnya air laut, menatap luasnya lautan, seluas impian dan harapan membangun Manggarai, membangun generasi daerah, mebangun generasi bangsa dan sekaligus membangun generasi dunia.
Komentar ini, telah diposting pada jejaring sosial, Floresa.com (19 April 2016)


Rabu, 20 November 2013

Don Lako, Don Ita

DON LAKO
Don lako, don ita;
Don ita, don bae;
Don bae, don tombo;
Don tombo, don pande;
Don pande, don betuan;
Don betuan, don mose weki agu wakar;
(Much we travel, much we see;
Much we see, much we know;
Much we know, much we talk;
Much we talk, much we do;
Much we do, much we benefit;
Much we benefit, much physical and spiritual happines we get)
(Adi M.Nggoro, Pro ceedings, The first multi Disciplinary International Conference on Education and Culture,Ruteng: STKIP St.Paulus, 2010:111)